Suatu ketika, ada seorang perempuan yang hatinya
tertutup begitu rapat. Karena pada sempat dia pernah terlibat dengan pekat yang
memeluknya erat-erat. "Sebuah rasa penuh laknat." katanya.
Jadi begini ceritanya, sebenarnya dahulu dia adalah penjaga
hati untuk seorang lelaki. Mereka bersepakat untuk saling menjaga hati. Saling
melindungi agar tak pergi-pergi. Ketika mereka bertemu sua. Satukan rindu yang
merajalela. Membalas budi jarak yang membuat sengsara rindu mereka. Bukannya
suka yang meningkahi mereka. Melainkan malah pertentangan menyeletukinya. Perempuan
itu memergoki foto mesra lelakinya dengan perempuan lain selain dirinya
pada dompetnya. "Itu sepupu aku. Jangan khawatir. Aku tak akan beranjak
dari kamu." tukas lelaki itu ketika ditanyai perempuannya.
Perempuan itu tidak percaya.
Beberapa hari berlalu kemudian. Rasa yang begitu
hangat mendekap erat pada perempuan itu tiba-tiba membakarnya dengan cepat.
Bukan lagi hangat yang ia rasa, melainkan panas dengan kobaran api yang
membara. Perempuan itu benar-benar melihat lelakinya menggandeng mesra
perempuan lain selain dirinya. "Selama ini…. Ah, sia-sia". Begitu dia
kata mengakui kebodohannya, pada akhirnya.
Lalu, ia memilih mengalah dan melepaskan.
Kasihan sekali… tapi perempuan itu tak mau dikasihani.
"saya tidak perlu dikasihani. Yang perlu dikasihani itu lelaki kejam
seperti dia." ujarnya kepada alam.
Siapa yang tidak tahu perasaan perempuan itu? Ibarat
porselen yang memukau, dan memerlukan cukup waktu dan beberapa proses untuk
membentuknya dan membuatnya kemilau dan memesona bagi yang memandangnya.
Seketika hancur hanya dengan beberapa detik saja. Pecah. Redup.
Kasihan sekali…
Begitu cepatnya waktu berlalu. Mencicipin berbagai
rasa yang disuguhkan secara bersama. Setiap waktunya. Dan waktu? Waktu belum
juga bosan dengan rasa yang itu-itu
saja. Ah, rupanya seorang perempuan yang hatinya pernah terluka oleh sebuah
penghianatan belum juga bosan mengurung hatinya. Menutup rapat-rapat kepada
seseorang yang datang kepadanya. Mengusir paksa para kumbang dan beberapa
sekawanannya untuk mengobati hatinya. Membersihkan lukanya. Duh.. Agaknya
perempuan itu benar-benar tak mau terluka untuk kedua kalinya. Sebab itu, ia
tak pernah mau membuka hatinya untuk siapapun yang menawarkan penawar bagi luka
yang meracuni hatinya.
Sampai pada suatu masa, ia terlalu jenuh dengan
pelbagai macam cerca dari waktu yang terpogoh pogoh membawa kenangannya. Dan
ketika itulah seorang lelaki datang kepadanya, lelaki yang pernah ia temui pada
sebuah acara beberapa waktu silam. Disapanya perempuan itu oleh lelaki
tersebut. dan begituah dongeng ini di mulai.
.....

No comments:
Post a Comment