Friday, 21 August 2015

Kemudian....


Suatu ketika, ada seorang perempuan yang hatinya tertutup begitu rapat. Karena pada sempat dia pernah terlibat dengan pekat yang memeluknya erat-erat. "Sebuah rasa penuh laknat." katanya.
Jadi begini ceritanya, sebenarnya dahulu dia adalah penjaga hati untuk seorang lelaki. Mereka bersepakat untuk saling menjaga hati. Saling melindungi agar tak pergi-pergi. Ketika mereka bertemu sua. Satukan rindu yang merajalela. Membalas budi jarak yang membuat sengsara rindu mereka. Bukannya suka yang meningkahi mereka. Melainkan malah pertentangan menyeletukinya. Perempuan itu memergoki foto mesra lelakinya dengan perempuan lain selain dirinya pada dompetnya. "Itu sepupu aku. Jangan khawatir. Aku tak akan beranjak dari kamu." tukas lelaki itu ketika ditanyai perempuannya.
Perempuan itu tidak percaya.
Beberapa hari berlalu kemudian. Rasa yang begitu hangat mendekap erat pada perempuan itu tiba-tiba membakarnya dengan cepat. Bukan lagi hangat yang ia rasa, melainkan panas dengan kobaran api yang membara. Perempuan itu benar-benar melihat lelakinya menggandeng mesra perempuan lain selain dirinya. "Selama ini…. Ah, sia-sia". Begitu dia kata mengakui kebodohannya, pada akhirnya.
Lalu, ia memilih mengalah dan melepaskan.
Kasihan sekali… tapi perempuan itu tak mau dikasihani. "saya tidak perlu dikasihani. Yang perlu dikasihani itu lelaki kejam seperti dia." ujarnya kepada alam.
Siapa yang tidak tahu perasaan perempuan itu? Ibarat porselen yang memukau, dan memerlukan cukup waktu dan beberapa proses untuk membentuknya dan membuatnya kemilau dan memesona bagi yang memandangnya. Seketika hancur hanya dengan beberapa detik saja. Pecah. Redup.
Kasihan sekali…

Begitu cepatnya waktu berlalu. Mencicipin berbagai rasa yang disuguhkan secara bersama. Setiap waktunya. Dan waktu? Waktu belum juga  bosan dengan rasa yang itu-itu saja. Ah, rupanya seorang perempuan yang hatinya pernah terluka oleh sebuah penghianatan belum juga bosan mengurung hatinya. Menutup rapat-rapat kepada seseorang yang datang kepadanya. Mengusir paksa para kumbang dan beberapa sekawanannya untuk mengobati hatinya. Membersihkan lukanya. Duh.. Agaknya perempuan itu benar-benar tak mau terluka untuk kedua kalinya. Sebab itu, ia tak pernah mau membuka hatinya untuk siapapun yang menawarkan penawar bagi luka yang meracuni hatinya.

Sampai pada suatu masa, ia terlalu jenuh dengan pelbagai macam cerca dari waktu yang terpogoh pogoh membawa kenangannya. Dan ketika itulah seorang lelaki datang kepadanya, lelaki yang pernah ia temui pada sebuah acara beberapa waktu silam. Disapanya perempuan itu oleh lelaki tersebut. dan begituah dongeng ini di mulai.
.....

No comments:

Post a Comment